Toraja Goes to The
World Cultural Heritage
Dari kata ‘’The World” tentunya kita mengarah pada kelas yang sangat
tinggi, yaitu kelas dunia.. “Cultural Heritage” artinya warisan budaya. Jadi arti
dari “The World Cultural Heritage” adalah warisan budaya dunia. Tahukah anda?
Bahwa di negeri kita tercinta ini terdapat banyak suku dan budaya yang punya
potensi untuk menjadi warisan budaya dunia. Dan salah satu dari suku dan budaya
di Indonesia yang memiliki potensi besar untuk menjadi The World Cultural Heritage
adalah suku yang terletak di suatu pulau bagian tengah Indonesia tepatnya di
Pulau Sulawes dan suku ini terkenal dengan kebudayaannya yang unik. Suku
tersebut adalah suku Toraja. Ayoo kita jalan-jalan ke Sulawesi Selatan hehe.
Suku Toraja adalah suku yang terletak
di Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara, awalnya Kabupaten ini
adalah satu kesatuan dari Kabupaten Tana Toraja tetapi karena perkambang
penduduk yang begitu pesat maka Kabupaten ini dikembangkan menjadi Kabupaten
Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara. Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan
bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia.
Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan sekitar 500.000 diantaranya
masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa. Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen,
sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah
Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
Berbagai
kegiatan menarik yang dilakukan masyarakat toraja dalam menjalankan berbagai
aktifitas budaya seperti tari-tarian, music tradisional dan lain-lain. Tapi sebebelum
itu tentunya kita hrus mengenal terlebih dahulu rumah adat dri suku ini jangan
sampai ketika kita berkunjung ke Toraja malah heran kok ada perahu di atas
rumah?hehe. Jadi rumah adat Toraja ini adalah Tongkonan. Tongkonan adalah
rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan kayu dan dihiasi dengan
ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata "tongkonan" berasal
dari bahasa Toraja tongkon ("duduk"). Tongkonan
merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan
tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja oleh karena
itu semua anggota keluarga diharuskan ikut serta karena Tongkonan melambangan
hubungan mereka dengan leluhur mereka. Menurut
cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang.
Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan
menggelar upacara yang besar.
Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya
dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan. Tongkonan
layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat
"pemerintahan". Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga
yang memiliki wewenang tertentu dalam adatdan tradisi lokal sedangkan anggota keluarga biasa
tinggal di tongkonan batu. Eksklusifitas kaum bangsawan atas tongkonan semakin
berkurang seiring banyaknya rakyat biasa yang mencari pekerjaan yang
menguntungkan di daerah lain di Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang
biasa pun mampu membangun tongkonan yang besar. Itulah cerita singkat mengenai
rumah Tongkonan. Setelah kita mengetahui rumah tradisional Totara itu seperti
apa, ayokk sekarang kita bias berkenalan dengan seni budaya apa saja yang
mempunyai potensi besar untuk menjadikan Toraja menuju pada The World Cultural
Heritage.
Seni dan Budaya Toraja
1.
Seni Toraja
Tana Toraja mengenal ritual rambu tuka’ ( aluk rampe
matallo) dan rambu solo’ ( aluk rampe matampu’). Kebiasaan- kebiasaan rambu
tuka’ dan rambu solo’ yang terpelihara secara turun temurun disebut adat istiadat.
Lakon ritual Aluk Todolo (kepercayaan orang dulu) dalam menaikkan aturan
keagamaan yang berwujud pada pemujaann terhadap Puang Matua, Dewata maupun To
Membali Puang, banyak dimanifetasikan dalam bentuk seni traditional seperti
seni tari, seni suara, seni music, seni sastra tutur, seni ukir dan seni pahat.
Pada upacara rambu tuka’, misalnya diikuti
oleh seni tari dan seni music maka music dan seni tari yang ditam[ilakan pada
upacara rambu solo’ tidak boleh (tabu) ditampilkan pada upacara rambu tuka’. Ada
juga jenis keseiaan yang boleh dipentaskan pada upacara kegembiraan maupun
upacara kedukaan, hamper semua ragam seni yang dipentaskan merupakan perpaduan
antara seni suara dengan seni tari, seni taari dengan seni music, atau seni
suara dengan seni music.
1)
Tari-Tarian
1. Tarian Manimbong
Tarian
Manimbong adalah tarian yang dilakukan oleh beberapa pria yang memakai kain
adat maa’ dan menggunakan parang-parang antik dan ikat kepala yang terbuat dari
bulu-bulu ayam.
(FOTO ANTARA/Sahrul Manda
Tikupadang)
2. Tarian Pa’bondesan
Tarian ini
dibawakan oleh beberapa pria dan tidak memakai baju kecuali selama adat khusus.
Para penari memakai kuku tiruan dan diiringi oleh suling
3. Tarian Ma’Gellu
Tarian yang
paling terkenal dari Toraja. Penarinya berasal dari beberapa remaja putri yang
menggunakan pakaian khusus penari dan perhiasan emas antik. Tarian ini
dibawakan pada upacara kegembiraan seperti pada pesta panen, pesta perkawinan
dan menyambut tamu.
4. Tarian Ma’dandan
Tarian yang
dibawakan beberapa wanita yang berpakaian putih dan memakai sejenis hiasan
kepala yang menyerupai atap depan rumah (biasa disebut Sa’pi). Para penari
bergerak lemah lunglai menggoyangkan tongkat mengikuti irama tari dan nyanyian
5. Tarian Pa’ Bonebala
Tarian yang hampir sama dengan tarian
Pa’Gellu. Yang membedakan hanya lagu dan ritme gendangnya
6. Tarian Manganda
Tarian yang
dibawakan oleh sekelompok lelaki yang menggunakan tanduk kerbau dikepala dan
dihiasi uang logam dan menggunakan semacam bel yang berdering-dering
diiringi teriakan.
7. Tarian Dao Bulan
Tarian yang
dibawakan beberapa remaja putri dan dimainkan secara massal pada upacara panen
atau menyambut tamu
8. Ma’katia
Ma'Katia (dok: priskatandi.files.wordpress.com)
Tarian duka tradisional untuk
menyambut tamu pada upacara pemakaman golongan bangsawan. Para penari memakai
pakaian seragam dengan topi kepala (sa’pi).
9. Ma’randing
Tarian Ma'randing adalah tarian untuk menjemput dan mengatur pahlawan
perang yang akan pergi medan perang atau dari media pertempuran. Para
penari memakai perisai dan tanduk kuningan di kepala. Sekarang ini digunakan
untuk upacara pemakaman orang bangsawan untuk menyambut rombongan tamu
10. Ma’parando
Tarian yang
dilakukan di acara kedukaan. Jika ada seseorang meninggal dunia dan mempunyai
cucu dua lapis maka sewaktu penguburannya, semua cucu perempuan dinaikkan
diatas bahu laki-laki dibawa keliling rumah tempat upacara pemakaman diadakan.
Para gadis remaja berpakaian adat lengkap dan diterangi obor pada malam hari.
11. Ma’badong
Tarian yang
dilakukan di acara kedukaan dimana para penari membuat lingkaran dengan pakaian
hitam atau bebas. Tarian ini biasanya berlangsung semalam suntuk dan bisa
dilakukan oleh para pria dan wanita. Para penari menggunakan berbagai
jenis langkah dan lagu silih berganti. Biasanya tarian ini dibawakan untuk
acara pemakaman yang berlangsung tiga malam ke atas.
12. Ma’dondi
Ditarikan pada
upacara pemakaman dan kata-kata yang digunakan pada tarian Ma’dondi sama dengan
Ma’badong tapi beda iramanya.
13. Tarian Pa’papangan
Tarian
penjemputan tamu yang dilakukan oleh gadis berpakaian lengkap dan diiringi
suling dan lagu duka (Pa’marakka)
14. Tarian Memanna
Tarian yang
dibawakan di acara pemakaman orang yang mati karena dibunuh. Para penari
berasal dari laki-laki, berpakaian compang-camping dari tikar robek, ikat
kepala dari rumput, senjata dari bambu, perisal dari pelepah pinang atau kulit
batang pisang.
2)
Seni Musik
Selain seni tarian yang begitu unik, di Suku Toraja juga
mempunya banyak music-musik tradisional yang tak kalah dari music-musik
traditional daerah lain.
1.
Passuling
Seruling tradisional Toraja, yang juga dikenal dengan nama “Suling Lembang”. Seruling dimainkan oleh kelompok laki-laki untuk mengiringi lantunan lagu “Pa’Marakka” atau lagu duka yang dinyanyikan oleh para wanita dalam menyambut tamu, yang hadir untuk menyampaikan rasa duka mereka kepada keluarga yang sedang berduka.
Seruling tradisional Toraja, yang juga dikenal dengan nama “Suling Lembang”. Seruling dimainkan oleh kelompok laki-laki untuk mengiringi lantunan lagu “Pa’Marakka” atau lagu duka yang dinyanyikan oleh para wanita dalam menyambut tamu, yang hadir untuk menyampaikan rasa duka mereka kepada keluarga yang sedang berduka.
2.
Pa’pelle/Pa’barrung
Jenis alat music ini sangat digemari anak-anak gembala menjelang menguningnya sawah. Sebuah alat musik yang terlihat seperti terompet, terbuat dari jerami yang dirakit dengan daun kelapa. Biasanya dimainkan selama upacara pengucapan syukur setelah menyelesaikan pembangunan rumah Tongkonan.
Jenis alat music ini sangat digemari anak-anak gembala menjelang menguningnya sawah. Sebuah alat musik yang terlihat seperti terompet, terbuat dari jerami yang dirakit dengan daun kelapa. Biasanya dimainkan selama upacara pengucapan syukur setelah menyelesaikan pembangunan rumah Tongkonan.
3.
Pa’pompang/Pa’bas
Pa’pompang merupakan sebuah orkestra bambu yang dimainkan oleh murid-murid SD dan SMP dibawah pimpinan dirigen. Biasanya alat music ini ditampilkan selama upacara nasional, seperti Hari Kemerdekaan, ulang tahun kota, dan festival nasional. Para murid memainkan lagu-lagu kontemporer, lagu daerah, dan lagu gereja.
Pa’pompang merupakan sebuah orkestra bambu yang dimainkan oleh murid-murid SD dan SMP dibawah pimpinan dirigen. Biasanya alat music ini ditampilkan selama upacara nasional, seperti Hari Kemerdekaan, ulang tahun kota, dan festival nasional. Para murid memainkan lagu-lagu kontemporer, lagu daerah, dan lagu gereja.
4.
Pa’karombi
Alat music dengan benang halus diletakkan pada bibir.
Benang disentak-sentak pada bibir sehingga menimbulkan bunyi yang berirama
halus namun mengasyikkan.
5.
Pa’tulali
Sebuah alat musik bambu berukuran kecil yang dimainkan dengan cara ditiup untuk menghasilkan suara yang indah.
Sebuah alat musik bambu berukuran kecil yang dimainkan dengan cara ditiup untuk menghasilkan suara yang indah.
6.
Pa’geso’geso’
Sebuah alat musik yang terbuat dari kayu dan batok kelapa dengan senar.
Sebuah alat musik yang terbuat dari kayu dan batok kelapa dengan senar.
Bagaimana menurut kalian Seni-seni dari
Toraja, unik-unik dan kreatifkan mereka? Setelah kita mengenal tari-tarian dan
music-musik dari suku Toraja, ayooo kita mengenali lagi tentang budaya atau
kebiasaan-kebiasaan dari suku Toraja.
2. Budaya
Toraja
Adat-istiadat
yang telah diwarisi masyarakat Toraja turun – temurun dalam bentuk rambu tukaa’
dan rambu solo’ mewajibkan keluarga yang tinggal menyelenggarakan sebuah pesta
sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi selamanya
(Aluk Rampe Matampu’ atau Mammaran Mata). Ungkapan mammaran mata oleh etnis
Toraja dinyatakan sebagai berikut :
“To
na indanriki’ lino, To na pake sangattu’, Kunbai lau’ ri Puyo, Pa’tondokan
marendengg.” Artinya, kita hanyalah pinjaman dunia dan dipakai untuk
sementara. Sebab, di Puyo-lah negeri kita yang kekal.
Dalam pelaksanaannya, sesuai aturan
aluk dan adat, upacara rambu solo’ terbagi dalam beberapa tingkatan yang
mengacu pada strata social masyarakat Toraja, yakni:
a) Ma’silli’
Ketika seseorang, biasanya bayi atau
kauanan tai manuk meninggal, pasa saat itu juga langsung dikubur. Biasanya
seekor anjing dan seekor babi dipotong sebagai kurban kedukaan dan diusung
bersama mayat kekuburan. Dipiong (dimasak dalam bamboo) di kuburan, lalu
dimakan ramai-ramai, tetapi tidak boleh (pemali) dibawa pulang ke rumah siapa
pun. Passiliran ini ada yang dilakukan di batang pohon.
b) Dipasangbongi
Upacara kedukaan yang hanya dilaksanakan
dalam satu hari dan satu malam. Acara dimulai pada hari ini, keesokan harinya
sang mediang harus dikubur dengan kurban sejumlah ekor babi dan satu ekor
kerbau.
c) Dipatallungbongi
Upacara kedukaan yang berlangsung selama
tiga hari tiga malam disertai pemotongan hewan (babi dan kerbau) da nada
ma’badong pada malam hari (hari kedua dan hari ketiga). Umumnya upacar ini dilakukan
oleh bangsawan menengah atau bangsawan sekalipun, namun kurang mampu.
d) Dipalimangbongi
Upacara kedukaan yang berlangsung selama
lima hari lima malam berturut-turut. Setiap hari ada pemotongan hewan (sejumlah
babi dan kerbau). Ada ma’badong pada malam hari. Umumnya upacar ini dilakukan
oleh bangsawan menengah atau bangsawan sekalipun, namun kurang mampu.
e) Dipapitungbongi
Upacara kedudukan yang berlangsung
selama tujuh hari tujuh malamm. Tiap hari ada peotongan hewan (sejumlah babi
dan kerbau) dan pada malam hari ada acara ma’badong. Umummnya upacara ini
dilakukan oleh bangsawan menengah atau bangsawan sekalipun, namun kurang mampu.
f) Dirapa’i
Dirapa’I atau ma’rapa’I merupakan
upacara tertinggi dan masih ada tingkat-tingkatannya. Biasanya dilaksanakan dua
kali dengan rentang wktu sekurang-kurangnya setahun. Upacara yang pertama
disebut (a) Aluk pia. Biasanya dalam pelaksanaannya bertempat di sekitar
tongkonan keluarga yang berduka, sedangkan upacara kedua yakni upacar (b)
Rante, biasanya dilaksanakan di sebuah lapangan khusus sebagai upacara puncak. Dari prosesi pemakaman
ini biasanya ditemui berbagai ritual adat yang harus dijalani, seperti
ma’tundan, ma’balun (membalut jenazah), ma’roto (membubuhkan ornament dari
benang emas dan perak pada peti jenazah), ma’popengkalo alang (menurunkan
jenazah dari tongkonan ke lumbung untuk disemayamkan), dan yang terakhir
ma’palao (yakni mengusung jenazah ke tempat perirtirahatan yang terakhir).
Selain ritual-ritual adat tersebut
ternyata masih ada hal-hal yang unik dalam upacara ini :
Ma’pasilaga tedong (adu kerbau). Kerbau
di Tana Toraja memiliki ciri yang mungkin tidak dapat ditemukan di daerah lain.
Mulai dari yang memiliki tanduk bengkok ke bawah sampai dengan kerbau berkulit
belang (tedong bonga atau saleko). Tedong bonga di Toraja sangat tinggi
harganya, yakni puluhan juta.
Siemba’ (adu kaki ) antara pria,
terutama anak remaja. Tari-tarian yang berkaitan dengan ritus rambu solo’
seperti pa’badong, pa’dondi’, pa’randing, pa’katia, pa’papangngan, passailo’
dan pa’pasilaga tedong.
Ma’tinggoro Tedong, Pemotongan kerbau (ma’tinggoro
tedong) dengan ciri khas masyarakat Toraja, yakni sekali tebas dengan sebila
parang pada leher kerbau yang ditambatkan pada sebuah upacara rambu solo’, keluarga mendiang
diwajibkan mengucapkan syukur pada Sang Pencipta yang sekaligus menandakan
selesainya upacara rambu solo’.